Sabtu, 31 Desember 2011

Ria


lirik & lagu :  kang Imam Al-Jabluk             

Kau datang padaku
Merasuk lamunan khayal-ku
Layangkan pandangku
Sejenak terbalut
Semua duka lara batin-ku
Alunkan ku lagu

Ku sapa kirana
Manis kau balas senyuman-ku
Ronakan cahaya
Melangkah padanya
Terbata kata terucap-kan
Ku tanya namanya

reff :   Ria........

Sambutlah tanganku
Kau kan ku ajak berlayar yang jauh
Arungi luas samudera biru
Jalani cinta sedalam jurang
Agar kita satu untuk selamanya

(ending) : Ku sapa kirana, Kau balas manis senyuman

http://soundcloud.com/kang-jabluk/ria 




Mimpi Hitam

lirik & lagu :  kang Imam Al-Jabluk

Senja berlalu menyapa sang waktu
Malam pun datang hampiri ku
Sudut gelapmu mengisi lelapku
Menjadi mimpi burukku

Aku pun tak mengerti mengapa terjadi
Disaat aku pergi memutar dalami mimpi

Kehadiranmu sangat mengganggu
Menderu bagai diserbu
Serigala memandu bayang-bayangmu
Merasuk dalam tidurku

Aku pun tak mengerti mengapa terjadi
Disaat aku pergi memutar dalami mimpi

reff :      Mimpi-mimpi hitam
S’lalu menyeramkan
Menghiasi malam
Membawa diriku tenggelam
Sampai berakhir malam

Hening rupamu misteri wujudmu
Tertawa kala memburu
Derap langkahmu memekik kupingku
Gelisah tiada menentu

Tapi ku tak mengerti mengapa terjadi
Disaat aku pergi memutar dalami mimpi

https://soundcloud.com/kang-jabluk/mimpi-hitam
 

Jumat, 25 November 2011

Kiki Nur Fauziyah

oleh : kang Imam Al-Jabluk

Kiki, nama kecil yang terbawa hingga kau dewasa kini
Adalah gadis santri yang telah dipersunting oleh seorang laki-laki
Bahtera keluarga yang kau jalani, kau tata dan kau susun rapi
Tirai cinta yang kau bina adalah istana berdinding permata berenda pelangi
Subhanallah,,, sungguh pandainya dirimu menjadi seorang isteri
Tentu saja membuat hati ini menjadi iri

Adikku Kiki yang kini telah bersuami
Aku titip kepadamu, jangan pernah kau lupakan kami
Jangan kau putus temali silaturrahmi
Aku ingin kau berjanji menjaga persahabatan ini
Kini dan nanti.

Rabu, 23 November 2011

Tahukah Kau Ria?

oleh : kang Imam Al-Jabluk

Malam itu sapaan dinginnya kabut menusuk tulang yang terbalut
Irama gigi yang menggigil dan kulit yang mengerut
Membekukan hati yang gebalau nan kalut
Kemelut hidup bagai baju yang tak pernah rapi dan kusut
Menuntut raga menghibur diri dengan nyanyian-nyanyian bisu namun banyak keluar busa dari mulut
Obor-obor redup, kubangan lahar pun surut
Sejak saat itu tak ada lentera dan aku terkurung, hidupku berantakan bagai terlepas dari ikatan yang melekat di rambut

Sementara jarum jam pun masih menjelajahi angka-angka yang disukai rembulan…
Engkau yang bernama Ria hadir mengubah khayalan abstrak fikiran
Siluet-siluet kehidupan kini seperti begitu nampak

 Kehadiranmu membuyarkan isu-isu khayalan kosong mengisi kehidupan temaram yang panjang
Kini gugusan lamunan semua tertuju padamu seorang
Walau ku tahu mencintaimu berarti harus berperang
Berperang seperti mengulang kisah Ramayana yang bernaskah rumit dengan sekenario yang begitu panjang dan menantang.

Dan panji-panji pun membentang, saatnya aku harus pergi berjuang
Seakan berjuang menjalani drama yang diselimuti renda-renda keangkuhanku dimana aku bisa berubah menjadi seekor serigala bengis dan curang
Dan sewaktu-waktu aku bisa terbunuh oleh tajamnya tikaman anak panah dari bidikan panah ku yang berubah menjadi bumerang.

Ria, perasaanku selalu gelisah dan tak betah berada dirumah
Dindingnya tak mampu melindungi ku dari panas terik yang membakar kecemburuanku,
atapnya tak mampu melindungiku dari terpaan hujan deras yang membasahi tangisan kesedihanku,
dan kekokohannya tak mampu menyembunyikan ku dari terkaman serigala yang akan mencabik-cabik estetika moralku

Aku kan tetap menanti gugusan bintang paksina itu berjatuhan runtuh
Agar aku bisa meraih segudang harapan yang semuanya tertuju padamu
Ria, hanya kau lah yang dapat menolongku hijrah dari tempat perlindungan yang ku anggap asing ini

Ria, tuntunlah aku untuk menuju kehidupanmu yang begitu indah bagai surau kecil ditengah kolam yang mengalir dengan ikan-ikan yang berenang bermandikan susu

Tetapi Ria, aku bertanya kepadamu, kebenaran apa yang meyakinkanku untuk berdiri tegak berjalan dengan pasti menyeberang pada sebuah jembatan kusam nan rapuh yang terbuat dari bambu?
Ketika kucuri cintamu yang mungkin menjadi tabu
Yang kelak semua dosa-dosa akan datang menghampiriku
Yang harus ku telan walau dirasa ketir dan pilu

Lupakanlah…….

Sekalipun kau hanya mimpi ketika ku terjaga dan melahirkan realita-realita yang tidak nyata, Biarlah….
Kan kubiarkan semua asa yang semu nan maya itu menjadi segara
Kelak airnya akan membasuh hatiku yang membara
Ketika aku kehausan diperjalanan menjadi seorang kembara
Yang akan selalu ku sambangi sebagai syair pelipur lara

Tahukah kau ria?
Aku selalu menyibukkan diri dengan membuat sajak dan puisi
Walau setiap bait yang ku bacakan membuat orang menjadi tuli
Meski bukan pujian tapi kebencian yang kau luapkan aku tak peduli
Setidaknya semua itu jadi catatan yang tersimpan di naluri.


Ria, meski kau dan aku berada dirimba yang berbeda tapi kita satu dalam atap langit yang sama.
Mati hari ini, mati hari esok, terkubur dalam satu bumi

Sudah dulu ya Ria……

Bunga Anriztyas





Bunga, engkau adalah dara berumur dua-dua
Gadis berkacamata berkerudung jingga
Busana merah muda bangkitkan suasana gairah pria.
Etika tatakrama mu sangatlah lembut dan terjaga
Tutur bahasa yang terkata lembut bagaikan sutera
Keramahan setiap sapa seperti udara yang tersedia
Tak pernah memilah dan tak mengenal siapa saja
Tawarkan aroma citra cinta gema asmara
Mengisi setiap ruang kehidupan yang kosong nan hampa.
Celakanya, aku menghirupmu terlalu lama, Bunga
Kau memasuki rongga dada alirkan darah dalam raga
Jiwa ini terasa hidup dan bernyawa
Waaah,,, alangkah sejuk dan segar ku rasa
Dan kini kau masuk ke hati dan disanalah sekarang engkau berada
Namun aku tak berdaya Bunga,
Walau kau dihatiku tapi tetap saja aku tak mampu untuk menyentuh dan meraba
Tak apa lah, kan ku simpan kau dihati ini dan kan selalu ku bawa kau kemana aku merimba…


~~ kang Imam Al-Jabluk ~~

Selasa, 22 November 2011

Bunga Tak Bernama

oleh : kang Imam Al-Jabluk

Meniti jalan setapak
Menatap keadaan sesaat
Terdiam dan terpana kala kutemukan bunga diantara semak
Dalam benak berkehendak
Namun hati setengah bulat
Karena engkau berada diantara duri dan onak
Rintangan ku terlalu banyak
Mendorong hati berbuat jahat
Mengandalkan tipu muslihat
Demi mendapatkanmu dengan cara yang singkat
Tapi ku berfikir, setelah kau ku dapat
Apa engkau akan menerimaku kelak?
Aku takut semua menjadi kecewa dan ku hanya bisa meratap
Kesana-kemari dengan hati yang kalap
Percuma jauh-jauh ku sebrangi selat
Dengan menempuh ujian berat
Bukan permata yang ku dapat
Tetapi besi retak yang penuh karat

Sabtu, 05 November 2011

SAJAK PAK TUA

oleh : kang Imam Al-Jabluk

Pak tua, ada kala kutemukan kebenaran diantara dusta
Petuah bagai mutiara keluar dari mulut manis berbisa
Tak ada hinaan dan cercaan tapi kalimat pepatah yang terkata
Sungguh tak disangka keranda yang kau bawa kini berubah menjadi kereta kencana
Apa yang membuat semua serasa berbeda?
Apa karena hari-harimu sudah tua sehingga balada masa mudamu kini sudah tiada?
Atau kau saksikan teman-temanmu satu-persatu dipanggil Yang Maha Kuasa dan kini kau sendiri yang tersisa?

Haaa,,, aku selalu ingat dan tak pernah lupa pak tua, 
dimana engkau mempermainkan agama,
mencaci-maki sekedar untuk tertawa,
merendahkan para ulama,
sampai kau tampar muka orang tuamu yang sudah renta,
dan kau hanya tertawa sambil membusungkan dada serta berkata seakan kehidupan selanjutnya tak pernah ada dan manusia hanyalah sebuah boneka yang diatur untuk meramaikan dunia.
Astagfirullah... kau bersikap seakan semua dosa tak pernah ada, surga dan neraka hanyalah kiasan belaka.

Tetapi kini kau telah sadar pak tua
Kau hijrah dari telaga yang penuh lumpur dan bernoda
Coretan kehidupan kini kau isi dengan sajak yang penuh makna dan berharga
Kau sesali kehidupan lama dengan air mata dan do’a,
Aku berkata, tak perlu kau linangkan air mata pak tua
Sebab itu bukan jiwa seorang satria
Jangan kau lakukan sesuatu dengan terpaksa
Keikhlasan dan iringan do’a lah yang seharusnya kau jaga
Dosa dan pahala hanya Tuhan yang dapat menilai segala tingkah laku kita
Maka dari itu lakukanlah dengan taqwa dan percaya.

Selamat pak tua,
Semoga Tuhan selalu ada dimana sekarang engkau berada

Rabu, 26 Oktober 2011

11 April 2011

oleh : kang Imam Al-jabluk

Malam ini kau hentakkan jantungku lebih kencang
Hati yang bahagia tiba-tiba jadi terdiam
Melihat isi nota undangan pernikahan
Hancurkan mimpi yang dulu tersimpan

Langit biru menjadi mendung
Rinai tak terbendung hujan pun turun
Basahi hati yang sedang menggurun
Jatuhkan air mata mohonkan ampun

Aku ingkar pada ikrar sebuah kata
Sumpah serapah yang ku ucap kini menjadi dosa
Janji manis dahulu kini menjadi dusta
Kalimah syurga kau rubah menjadi neraka
Lahirkan sebongkah selaksa kawah candradimuka

Kini ku berkasih pada ilusi
Isteri yang ternanti kini telah pergi
Aku tak mau lagi mengucap selembar janji
Kerana ku sadar tak mungkin ku penuhi walau berlari

Selamat jalan serpihan cinta
Berbahagialah dihari yang telah tiba
Doa suciku yang terlantun mengiringi kalian berdua
Semoga hidup kalian indah bak di negeri nirwana

Jumat, 21 Oktober 2011

Anakku Sayang

lirik & lagu : kang Imam Al-Jabluk
  
Anakku sayang janganlah lupa makan walaupun gak punya uang
Anakku sayang baik-baik di kost-an janganlah lupa makan
Biar gak punya uang belajarlah menghutang kepada ibu kost-an

Anakku sayang sesudah engkau makan hisaplah rokok sebatang
Anakku sayang rawat rambut sampai panjang biar kelihat garang
Biar gak punya uang palaklah setiap orang biar hidupmu mapan

Anakku sayang b’lajarlah mencari uang walaupun duitnya haram
Anakku sayang kok rambutnya di pirang? seperti trio macan
Biar gak punya teman autis sendirian yang penting pertanian






(lagu ini dibuat dan ditulis tahun 2010-an tapi lupa tanggal dan bulannya, harapannya bisa jadi mars pertanian unpad tapi lirik nya seperti nasihat dari bapak tiri)

Rabu, 28 September 2011

Ria Melati

oleh : kang Imam Al-jabluk  

Hari ini entah mengapa namamu bertasbih di nurani
Meninggalkan bayang raut dari paras tatapmu yang bertubi
Berarak tanya terbesit di hati
Akankah engkau memendam sebuah rasa simpati?

            Apakah dia mengetahui perasaan yang ku peram?
            Yang selalu ku baca di setiap kelam
            Meronta asa yang tak pernah padam
            Bagai awak yang takut kapal nya karam

Wahai isteri yang ku sanjung
Berilah aku bunga walau setangkai tanjung
Tanda ada seberkas harapan yang selama ini menggantung
Membuka ikatan sarit yang merantai di relung

            Sebut saja dinda itu Ria Melati
            Yang hampir selalu ku puja bak seorang dewi
            Untukmu setiap hari tercipta sebongkah puisi
            Karena ku tahu mencintaimu adalah sebuah seni

Melati di Seberang Telaga Biru

oleh : kang Imam Al-jabluk

Terlalu tinggi gunung ku daki
Terlalu luas samudera ku sebrangi
Terlalu jauh pelabuhan ku renangi
Terlalu singkat waktu ku lalui
Disaat ini ku hanya ingin sendiri
Tanpa memikirkan belas kasih cinta yang kau tanam di hati

            Ku biarkan semua waktu berlalu
Tanpa singgah menggubah hatiku yang pilu
Belai asa yang ku titipkan padamu
Menyingkap tabir rahasia yang samar sendu
Seperti puisi hijau yang berubah menjadi biru
Atau seorang aradea yang mengharap ratu

Ku tahu kasta kita berbeda
Apakah ini pembatas cinta kita?
Aku memang tak peduli dengan etika, estetika dan logika
Karena itu aku menjadi buta
Tuhan, apa ini perbuatan dosa?
Tapi apa daya, dihatiku hanya ada dia

            Izinkan aku mencium tanganmu
            Damaikan hatiku yang ragu
            Mengumbar senyuman yang teriring dengan lagu
            Walau engkau melati di seberang telaga biru
            Harum mu akan tercium dan ku ingat selalu
            Dan takkan terbesit cemas kau akan layu